payday loans
   
Evidence Untuk Dampak Rokok PDF Print E-mail
Written by admin   

Thu Dec 8, 2011 12:43 am Brahm Marjadi <b.marjadi@gmail.com

Yth Sdr Alita, rekan-rekan sejawat, dan senior yang saya hormati,
Saya bukan peneliti di bidang tembakau, dan pengetahuan saya terbatas seperti sebagian besar dokter umum Indonesia lainnya. Akan tetapi, saya memang tertarik akan epidemiologi dan evidence-based medicine.

Sdr Alita berkomentar:
FYI, saya mengajukan "radikal bebas" (yg dihasilkan oleh perbuatan menghisap rokok) sbg "apanya" dari merokok yg berbahaya bagi kesehatan, berdasarkan penemuan di bidang nanobiologi yg bisa dibaca di website berikut:
http://smartbio.org/
http://smartbio.ub.ac.id/official/

Tanggapan saya:
Mohon maaf kepada Sdr Alita, juga kepada DR Gretha et al, tetapi saya sudah cermati kedua website tersebut, terutama di halaman "artikel"nya. Maaf, menurut saya artikel-artikel tersebut masih jauh untuk dinilai sebagai evidence yang kuat.
Pertama-tama, ternyata "artikel" itu hanyalah sekedar upload di suatu blog, bukan publikasi ilmiah di jurnal dengan mitra bestari (peer review). Dalam urutan bobot evidence, tulisan di blog termasuk yang cukup rendah urutannya, karena faktanya adalah siapapun bisa membuat blog dan mengupload file -- bahkan seseorang bisa saja membuat blog dengan meng-klaim jati diri orang lain.
Kedua, saya lihat "artikel-artikel" dalam blog tersebut sangat sedikit referensinya, bahkan ada yang tidak pakai referensi sama sekali, meskipun disertai banyak gambar yang menarik (meski saya tidak paham artinya). Penggunaan referensi adalah salah satu ciri dan ukuran mutu ilmiah suatu karya tulis -- saya kira kita semua sudah tahu ini sejak skripsi.
Ketiga, struktur laporan "penelitian" pada manusianya cukup meragukan bagi saya. Formatnya sangat jauh dari format standar laporan ilmiah (intro, methods, results, discussion, conclusion). Khususnya, metode penelitiannya (jumlah responden, siapa mereka, data dasar, cara pengukuran, dsb) tidak dijelaskan, sehingga hasil yang dilaporkan tidak bisa dinilai validitas dan reliabilitasnya. Dalam evidence-based medicine ada tiga "saringan" untuk menilai evidence: (1) apakah metodenya valid; (2) apa hasil yang dilaporkan; dan (3) apakah hasil
itu relevan dengan kondisi lokal pasien kita. Artikel-artikel dari kedua website nanobiologi ini sayang sekali sudah gugur di saringan pertama, sehingga evidence-nya (kalau ada) tidak bisa dipakai.

Barangkali Sdr Alita, atau sejawat lain yang berkecimpung di bidang ini, bisa memberikan sumber evidence lain yang lebih kuat?

Bagi yang mungkin kurang berminat, mohon maaf kalau diskusi evidence-based medicine ini dirasa mengganggu, akan tetapi saya pikir kita semua perlu membiasakan diri memanfaatkan evidence yang ada
sebagai bahan pertimbangan kita. Bahkan, di bidang policy-making pun, seperti yang banyak didiskusikan di milis ini, sudah banyak diterapkan evidence-based policy-making. Saya harap penggunaan evidence bisa semakin menyemarakkan diskusi policy dalam milis ini.

Thu Dec 8, 2011 8:19 am Apelint Damar <apelint_77@yahoo.com>

Halo teman2,
Pak Brahm, banyak terimakasih atas komennya. Tidak perlu minta maaf koq Pak, setiap masukan berharga buat saya - the more you learn, the less you know, ya kan? ...:)
Apa yg disampaikan Pak Brahm ttg kaidah penelitian ilmiah benar adanya, dan kita sbg komunitas ilmuwan tentunya/seharusnya tahu. Website yg saya sampaikan sebenarnya bertujuan menggugah rasa ingin tahu para pengunjung ttg Nano Science, dan grafik yg ada disitu menggambarkan transformasi Toxic Tobacco menjadi "Divine" (non-toxic) Tobacco, dengan memanfaatkan partikel atom Mercury bermuatan positif yg terdapat pada asap rokok (berdasarkan fundamental atomic and quantum ideas of modern physics), sbb:
Quote: "Toxic Tobacco smoke has constituents of solids and a huge number of velocity-compounds containing Hg which are small and misted. The invention facilitates gas to transform other poisons (NH3, CO, CO2, NO, NO2, hydrogen cyanide (HCN), volatile aldehyde, benzene vapor, acetone, vinyl chloride, unsaturated hydrocarbons) as well as particulates (Tar, nicotine, metals - e.g. cadmium, nickel, lead, iron, chromium, arsenic, phenols/semi-quinones/quinines, hydrocarbons radicals such as benzopyrene, benzanthracene, chrysene) into smoke with very small sized (nano-size) particles having energetic potentials which are able to generate complex structures. These Divine Tobacco smoke particles are found to be considerable friendly to people, able to change polluted environment". Unquote.
Namun memang ada sesuatu yg saya tahu yg teman2 blm tahu. Spt yg pernah saya sampaikan sblmnya, penelitian yg sesungguhnya memang sedang berlangsung (blm dipublikasi), maka utk sementara ini saya tidak berwenang utk mengirimkan apapun dlm bentuk attachment. Penelitian di bawah pengawasan Prof. Sutiman, Guru Besar Biologi Sel dan Molekuler Universitas Brawijaya, berfungsi memberikan dasar pijakan penyusunan program penelitian jangka panjang berupa serangkaian program penelitian kelompok studi Biologi Nano di Universitas tsb sampai th 2020, atas dasar mana dilakukan berbagai penelitian di bidang Biologi Molekular, Biologi Sel, Sistim Imun dan Fisika Material, yg akan terbit tahun depan. Penelitian Unbraw difokuskan pada upaya meningkatkan apresiasi ilmiah thdp kearifan lokal, a.l. kegiatan riset tentang jamu dan asap kretek, menggunakan konsep Nano Science dan Complexity Science. Alasan lain adalah keinginan untuk menghargai karya anak bangsa Indonesia, dan upaya untuk tidak terlalu terpukau dengan jalan berfikir ilmuwan Barat, agar kita menjadi bangsa yang lebih kreatif dan memiliki kepercayaan diri di tengah maraknya bisnis global. Banyak hal memang sangat teoritis karena minimnya referensi di bidang ilmu kedokteran dalam melibatkan pemikiran Fisika Modern.  Kedua cabang ilmu ini memang minim komunikasi (i.e. ilmu pengetahuan yg ter-kotak2). Penelitian2 serupa juga sedang berlangsung di Undip di bawah pengawasan Prof. Sarjadi, Guru Besar, Ahli Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Saya pasti akan sampaikan penelitian2 tsb kpd teman2 setelah dipublikasi. Sedikit ttg latar belakangnya, DR Gretha menerapkan terapi detoksifikasi yg disebut Balur sejak th 2000an, yg tujuannya mengeluarkan dari dlm tubuh segala macam racun (bukan hanya mercury tapi juga racun lainnya yg berbahaya bagi daya tahan tubuh), kebanyakan pada pasien kanker stadium lanjut dan terminal. Pasien2 yg sembuh spt dibuktikan oleh medical record mereka (banyak diantaranya berprofesi sbg dokter dan akademisi), kemudian mensponsori penelitian2 yg sedang berlangsung tsb.
Harapan saya, tentunya, setelah penelitian2 tsb terbit, maka akan terjalin kerjasama yg lebih erat antar berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Demikian saya sampaikan, dan mohon maaf jika yg saya sampaikan dipandang kurang memuaskan, namun utk sementara ini saya blm bisa berbuat lebih ... :(

PS - Komen Pak Brahm dan teman2 lainnya ttg pengabaian mercury (dan racun lainnya yg ada pada processed food, artificial sweetener, dll) dlm riset terkait penyakit ditunggu yah - jika tidak keberatan loh ... :)

Fri Dec 9, 2011 4:17 am Pande Putu Januraga <dr_januraga@yahoo.com>

Dear Ibu/Bapak Alita (maaf saya tidak tahu)
Saya sangat dan selalu tertarik dengan segala upaya mengidentifikasi kearifan lokal karena saya termasuk yang percaya bahwa sovereignty dalam menjalankan budaya dan kehidupan sosial termasuk bahasa adalah salah satu determinant penting of health, bahkan lebih lanjut lagi saya merasa pendekatan lokal dalam pengembangan keilmuan juga termasuk di dalamnya. Sepengetahuan saya (mungkin salah) konsep keilmuan modern yang dimulai barat didasarkan pada pengambilan kesimpulan dengan dua pendekatan umum yaitu induksi dan deduksi sedangkan misalnya dalam tradisi kami di Bali pengetahuan diperoleh melalui pendekatan "anumana, pretyaksa, dan agama premana". Pendekatan anumana dan premana bisa dikatakan mirip dengan kaidah keilmuan modern tetapi pendekatan agama yaitu memperoleh pengetahuan melalui kitab suci dan para guru atau sadhu sulit diterima oleh kaidah keilmuan modern. Dalam praktek lokal misalnya orang Bali memanfaatkan kunyit sebagai antiseptik untuk mengobati luka karena pengetahuan yang diperoleh dari "agama premana".
Nah kembali ke komentar Sdr Alita terkait riset nanosmoke/nanobiologi berikut:
"Alasan lain adalah keinginan untuk menghargai karya anak bangsa Indonesia, dan upaya untuk tidak terlalu terpukau dengan jalan berfikir ilmuwan Barat, agar kita menjadi bangsa yang lebih kreatif dan memiliki kepercayaan diri di tengah maraknya bisnis global" menjadi sangat menarik perhatian saya, bisakah dijelaskan lebih lanjut jalan berpikir ilmuwan barat yang bagaimana dipandang sering memukau kita ilmuwan lokal  sehingga kemudian riset nano ini bisa memiliki keunikan jalan berpikir ilmuwan "timur"?
Mohon bantuannya untuk sharing, menarik bagi saya untuk menambah wawasan dari forum ini. Mohon maaf bagi kolega yang lain kalau dinilai menyimpang.

Fri Dec 9, 2011 7:16 am Apelint Damar <apelint_77@yahoo.com>

Halo teman2 semua,
Mas Pande, panggil saya Mba aja yah :)
Setahu saya juga, penelitian2 a la Barat mengambil kesimpulan melalui pendekatan induksi (not necessarily valid) dan deduksi.(valid), tapi karena deduksi itu bersifat reductionist, maka hal2 yg "dianggap" tidak penting diabaikan dlm proses analysis. Sedangkan perspektif Complexity Science yg bersifat "holistik" tidak melakukan pengabaian. Maka, walaupun perspektif CS juga menggunakan pendekatan induksi dan deduksi, tapi it overcomes reductionist thinking, shg dipandang cocok utk melakukan riset terkait a.l. jamu dan asap ktretek, mengingat bhw kearifan kita/Timur pada umumnya bersifat holistik.
Mas Pande bisa jajaki apakah dgn menggunakan perspektif CS sbg "tambahan", maka penelitian terkait  anumana dan premana - dan bahkan pretyaksa (?) - mungkin bisa dilakukan shg kesimpulannya bisa diterima oleh kaidah ilmu modern? Kita yg orang Indonesia sebenarnya tahu dari nenek moyang kita bhw jamu (maybe not all) bermanfaat, tapi karena kurangnya bukti "ilmiah" pada jamu, maka sering diremehkan, padahal jamu adalah warisan kebudayaan kita yg seharusnya kita hargai, bukan?
Perspektif CS yg non-linear, complex, adaptive, memang hal yg masih baru (kalo tidak salah dicetuskan sekitar th 1970an), tetapi sudah mulai "ngetrend" di dunia Barat dan sudah diterapkan di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Namun karena masih hal baru, maka blm begitu banyak penelitian (di dunia Barat sekalipun), yg sudah dipublikasi. Dan kita di Indonesia .... well, kita rata2 cuma/baru tahu pendekatan Newtonian (linear, reductionist), yg masih kita anggap mampu, on its own, utk menyelesaikan berbagai masalah yg masih menghantui kita :(
Saya kutip di bawah ini cuplikan dari penelitian kawan2 di Unbraw:

Quote:
"Kesadaran terhadap fakta bahwa sistem kehidupan adalah obyek kajian yang komplek dan sifatnya selalu non-linieristik melahirkan pandangan The Science of Complexity.
Disadari oleh banyak pihak bahwa berbagai kearifan lokal di dunia Timur umumnya bersifat holistik dan kurang pas bila hanya dikaji secara reduksionistik dengan hanya fokus pada aspek-aspek tertentu yang dianggap sebagai komponen dominan. Berbagai komponen yang selama ini dianggap tidak dominan ternyata juga memegang peranan penting terutama setelah berkembangnya pemikiran Nano Science. Atas dasar ini, setiap hasil proses berfikir analitik dan reduksionistik harus dipertimbangkan sebagai kesimpulan yang tidak bersifat final. Pemanfaatan pengetahuan dengan demikian selalu memperhatikan semua aspek dan data untuk dipertimbangkan secara komprehensif. Kegiatan penelitian dengan tetap memperhitungkan kompleksitas sistem alam seperti ini, di saat sekarang sangat memungkinkan terutama setelah berkembangnya Ilmu Komputer serta Teknologi Informasi yang memungkinkan untuk menyimpan dan memanfaatkan informasi serta data base."
Unquote.

Sbg contoh:
Quote:
"Asap rokok mengandung campuran zat dan elemen kimia yang sangat kompleks dalam bentuk gas dan partikel, kurang lebih sekitar 4700 jenis zat yang sudah terdeteksi dan diperkirakan sekitar jenis zat 100.000 yang belum teridentifikasi (Green CR 1996; Baker 2006). Kekomplekan zat terkandung pada asap rokok, menentukan karakteristik partikelnya yang berupa besarnnya konsentrasi partikel dan ukuran partikelnnya. Penelitian sebelum telah menemukan perpedaan konsentrasi partikel di dalam suatu rumah perokok dan rumah non perokok yakni sekitar 20 sampai 30 μg/m3 (Leaderer and Hammond 1991; Ozkaynak et al. 1996). Konsentrasi partikel di lingkungan berasap rokok bervariasi tergantung tempat dan waktu. Konsdisi rumah dan lingkungan, seperti keadaan ventilasi rumah, dan konsentrasi partikel di luar rumah juga berpengaruh terhadap konsentrasi partikel didalam rumah (Morawska et al. 1997; Miller and Nazaroff 2001). Sampai saat ini belum ada penelitian tentang konsentrasi partikel di terkandung dari asap rokok khususnya Kretek pada saat dilepaskan dan saat rokok dihisap, sehingga pengetahuan tentang konsentrasi partikel pada asap rokok masih sangat minim.
Pengetahuan tentang karakteristik partikel dari asap rokok sangat diperlukan untuk mengetahui pengaruh rokok. Penelitian yang dilakukan oleh Morawska dan kelompokmya pada tahun 1997 tentang karakteristik nanopartikel di dalam suatu ruangan yang dipenuhi oleh asap rokok, mereka menemukan bahwa partikel yang terkandung pada asap rokok adalah nanopartikel dengan diameter bervariasi antara 60 sampai 90 nm (Morawska et al.1997). Akan tetapi karakteristik dari partikel pada asap rokok tergatung dari banyak faktor, antara lain jenis rokok, jenis tembakau yang digunakan, jenis ramuan yang dicampur pada tembakau rokok, rokok yang berfilter ataupun rokok yang tak berfilter, jenis filter yang digunakan dan banyak lagi. Sampai saat ini belum ada penenelitian karakteristik nanopartikel pada asap rokok sebagai fungsi dari faktor-faktor yang disebutkan di atas".
Unquote.

Fri Dec 9, 2011 9:01 am Pande Putu Januraga <dr_januraga@yahoo.com>

Dear Mbak Alita,
seperti yang mbak sampaikan, di Barat CS sendiri sudah disadari dan sudah mulai banyak diaplikasikan...... cuma kita yang selalu terlambat sadar...... melupakan kearifan lokal tergiur ke-modernan cara berpikir barat dengan kemajuan teknologinya kemudian secara buta dan tuli coba kita aplikasikan untuk masyarakat kita..... buktinya sampai sekarang Mendikbud masih meyakini UN yang di tingkat SMP misalnya mengujikan IPA tetapi melupakan IPS padahal di mata pelajaran inilah pola berpikir holistik dan kompleks bisa diasah (meskipun di IPA juga bisa, meski kenyataannya masih didominasi pola berpikir linier).

WHO sendiri setahu saya bahkan punya pusat kajian social determinant of health yang lebih berfokus pada pendekatan holistik dalam mengatasi masalah kesmas. Bukti yang terutama ditulis Sir Marmot dan Wilkinson sangat banyak, bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial yang kompleks.
Di bidang lain pola berpikir tidak linier juga berkembang pesat, misalnya dalam bidang archeology, anggapan bahwa sejarah berjalan seperti garis linier dimulai dari prasejarah yang primitif sampai jaman komputer sekarang ini mulai banyak dibantah, ada banyak ahli Barat yang mulai berhipotesa bahwa sejarah seperti roller coster dimana di masa lalu teknologi pernah berkembang pesat kemudian punah karena alasan tertentu dan sekarang kita hanya mengulanginya kembali....... lucunya guru-guru pengajar sejarah manusia kita masih terkooptasi dengan sejarah versi linier........
Yah kita memang tidak tahu apa-apa.
Kami tunggu bukti-bukti ilmiah terkait riset yang Mbak maksudkan, semoga memberi hasil positif.

Sat Dec 10, 2011 1:59 am Apelint Damar <apelint_77@yahoo.com>

Dear all,
Semoga apa yg disampaikan Mas Pande bermanfaat sbg bahan renungan kita bersama :)
CS dipandang sbg sarana ampuh utk membantu manusia melakukan terobosan2 luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, dgn memungkinkan penemuan2 baru yg selama ini dibatasi oleh pendekatan linear-reductionist yg telah mengakibatkan narrow-mindedness. Narrow-mindedness ini, in turn, telah menghambat kemajuan Science, a.l. spt yg disentil artikel Linda Wenger itu - karena Science selama ini menunjukkan "bukti" bhw merokok berbahaya bagi kesehatan, maka perokok dan segala sesuatunya yg berhubungan dgn merokok terkena stigma, shg menghambat penelitian lbh lanjut terkait merokok utk mengetahui "apanya" dari merokok yg berbahaya, dan dgn demikian sebab2 NCD lainnya yg selama ini diabaikan.

Sudah cukup lama dirasakan bhw Science (as we know it) kesulitan mengklaim Absolute Knowledge karena masih banyak loose ends. Padahal, jika loose ends ini diteliti lbh lanjut, berpotensi membuka mata kita bhw apa yg selama ini kita yakini sbg "benar" mungkin ternyata "tidak benar". Bahkan konklusi Einstein bhw "nothing travels faster than light", sekarang ini dipertanyakan oleh sejumlah ilmuwan, mengingat sebuah eksperimen terkait sub-atomic particles yg disebut neutrinos menunjukkan teori itu "mungkin" tidak benar, i.e. "neutrino beam fired from a particle accelerator" ternyata mengalahkan kecepatan cahaya, spt yg bisa dibaca melalui link di bawah ini:
http://www.dnaindia.com/world/report_did-albert-einstein-get-it-wrong_1590703
Namun demikian, jika Nano Science dan CS mampu melakukan terobosan2 terkait Modern Physics, penemuan Absolute Knowledge masih terhalang krn kita blm mampu melakukan riset terkait hal2 yg tidak bisa ditangkap oleh panca indera kita, terutama yg menyangkut pikiran/akal kita (our mind). Padahal akal kita punya peranan penting dlm segala sesuatu yg kita lakukan. Science hanya mampu menjawab pertanyaan "bagaimana" yg menyiratkan "causality", sedangkan pertanyaan "mengapa" banyak yg blm terjawab karena menyiratkan hal2 yg sgt erat hubungannya dgn pikiran/akal kita.Oleh karenanya, para ilmuwan sekarang ini sibuk mencari tahu ttg the "metaphysics-side" of the truth, i.e. jika sisi itu memang ada, teori spt apa yg mampu menanggapinya.
Penelitian2 teman2 di Unbraw akan saya sampaikan kpd teman2 semua begitu ada di antaranya yg dipublikasi.
Have a great week end, everyone!!!
 

Add comment


Berita Nasional

kulon-progo-distribusikan-vaksin-flu-burung- Kulon Progo - Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mendistribusikan 25.000 vaksin flu burung (H5N1) clade 2.3.2 kepada para peternak itik di sana. Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dinas Kepenak) Kulon Progo, Drajad Purbadi, kepada Antara, di Kulon Progo, Senin (14/1), mengatakan, distribusi vaksin melaui Unit Pelaksana Teknis Dinas Pusat Kesehatan Hewan (UPTD Puskeswan) di wilayah utara, tengan dan selatan di wilayah Kulon Progo. "Penyebaran H5N1 clade 2.3.2 telah menyerang itik di Kabupaten Kulon Progo pada Oktober 2012. Untuk itu, kami berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta untuk mengantasi penyebaran virus ini....
tingkatkan-pelayanan-pasien-di-depok-anggaran-kesehatan-harus-digenjo SEBAGAI kota penyangga ibu kota, pelayanan kesehatan di Depok masih belum optimal. Nyatanya, masih banyak warga Depok yang berobat dan mencari fasilitas kesehatan ke Jakarta. Betapa tidak, tahun 2013 anggaran kesehatan di APBD Depok masih jauh dari aturan Undang-Undang Kesehatan, yakni mewajibkan 10 persen dari APBD. Dana kesehatan saat ini sebesar Rp97 miliar masih di bawah 10 persen APBD senilai Rp1,6 triliun. Anggota Komisi D DPRD Depok Farida Rahmawati mengatakan, kebutuhan pelayanan kesehatan sangat tinggi, sementara RSUD Depok selalu penuh sesak. Apalagi pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Sementara infrastruktur kesehatan, kata dia, masih belum memadai. Farida mengakui kuncinya memang penataan kembali plafon anggaran prioritas...

Berita Internasional

kwara-resident-doctors-embark-on-rural-health-careThe 400 membership of Association of Resident Doctors in the University of Ilorin Teaching Hospital (UITH) has embarked on rural medical posting/outreach with the aim of complementing government efforts on rural community health care programme. Speaking at the free screening exercise for non communicable diseases like hypertension and diabetes among civil servants in Ilorin, the president of the association, Dr. Dele Tajudeen, said the programme was part of goals aimed at giving back to the community. Dr. Tajudeen, who said the pilot exercise of the rural medical outreach had been carried out in Offa and Esie communities, adding that resident doctors from...
survey-most-rural-doctors-in-southern-kentucky-not-prepared-to-implement-electronic-health-recordsMany rural providers near retirement weigh making investment versus closing practice LONDON, Ky. (April 5, 2013) — A new electronic health records (EHR) survey released this week found that 63 percent of rural health providers have not installed the new EHR software as mandated by the American Recovery and Reinvestment Act of 2009. More than 280 of the small and rural doctor practices surveyed in the Southern Kentucky region could be impacted and would face financial penalties from Medicaid and Medicare if they do not have new electronic health records software installed by 2015. More than 280 of the small and rural doctor...
RocketTheme Joomla Templates