payday loans
   
Masa Depan Dinas Kesehatan PDF Print E-mail
Written by admin   

Masa Depan Dinas Kesehatan

1. Wed Feb 20, 2002 4:59 am Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Hallo para peserta miling-list. Sudah ada beberapa tanggapan dari berbagai pihak mengenai hasil rangkuman tahap II.  OK, ada satu hal penting yang kita ingin mendengar dulu, apa pengaruh dari social-capital untuk derajad kesehatan, dan juga bagaimana hubungannya dengan beban pekerjaan Dinas Kesehatan. Apakah kalau di daerah social-capitalnya tinggi, maka beban Dinas Kesehatan untuk menjalankan tugasnya akan lebih ringan? Kemudian kalau lebih ekstrim lagi, apabila social-capitalnya sangat tinggi apakah peran pemerintah akan tidak ada?
Mungkin pak Hari Kusnanto bisa menjawabnya? Beliau saat ini sedang banyak membahas mengenai masalah social-capital di Harvard School of Public Health.
Hallo pak hari...mohon komentar.  Terima-kasih.
Moderator.

2. Wed Feb 20, 2002 5:59 am "Dr. Ilsa Nelwan, MPH" <pikanel@xxx>

Pak Laksono,
Francis Fukuyama dalam bukunya "trust" mengkategorikan negara-bangsa berdasarkan kadar trust nya menjadi low and high trust society. Makin tinggi kadar trust nya , makin siap masyarakat itu untuk demokrasi dan modernitas. Bangsa bangsa yg mengandalkan  hubungan darah adalah bangsa yg low trust, sedangkan bangsa yg tinggi trustnya melihat hubungan dari performance. Mungkin ini juga termasuk social capital. Contoh dari bangsa low trust adalah Cina, dan yg high trust adalah Jepang dan Amerika. Kalau mengikuti pemikirannya mungkin Indonesia termasuk low trust society, sehingga kita menghadapi masalah , belum siap menghadapi modernisasi demokrasi,dsb.
Hanya bagaimana kita mengukur social capital ?. Rasanya kita perlu juga berhati hati, kalau misalnya tingkat pendidikan rata rata masyarakatnya lebih tinggi apakah social capitalnya lebih besar ?
Beban Dinas kesehatan, atau lebih tepatnya mandat Dinas Kesehatan dengan lebih tingginya social capital malah mungkin lebih sulit karena demandnya lebih tinggi. Oleh karena itu yg juga penting untuk dipikirkan bagaimana rekrutmen health leaders dan staffnya. Memang kembali yg perlu dielaborasi adalah "raison d'etre" Dinas Kesehatan. Kalau  yg dimaksud adalah substansi pekerjaan rasanya tetap penting, sebagai bagian dari good government. Soal struktur masih bisa dipikirkan, bagaimana agar lebih efisien. Hal ini tergantung pada orang orang Dinas Kesehatan yg ada saat ini. Yg lucu pernah di satu kabupaten di Jawa Barat Dinas peternakan mau dihapuskan-dalam rangka perampingan organisasi- lalu katanya mau di merger dengan Dinas Kesehatan...
Yang perlu segera dirubah adalah  mind setnya, yg tadinya  mengikuti juklak -juknis dari Jakarta harus mampu melihat potensi dan masalah wilayahnya untuk bisa merumuskan peran Dinas. Yang tadinya cuma ngetik SK mesti memikirkan untuk pelayanan kesehatan di kab/kota ini  diperlukan tenaga apa, berapa, bagaimana memilihnya, dsb... Yang tadinya minta dilayani, harus berubah menjadi ingin melayani masyarakat. Yang tadinya siap melaksanakan perintah, menjadi kreatif dan inovatif.... Mimpi kali yaaa ?!. salam, Ilsa

3. Wed Feb 20, 2002 9:19 am hkusnant <hkusnant@xxx>

Dear all,
Menarik sekali uraian bu Ilsa mengenai trust (Fukuyama, 1995 dan 1999)yang mengaitkan social virtues dan kemakmuran masyarakat. Ada banyak definisi mengenai social capital, namun dua unsur utama memaknai social capital: pertama, adanya kerjasama atau jalinan sosial yang memudahkan kegiatan-kegiatan tertentu di antara para anggauta jalinan tersebut; dan kedua, sebagaimana capital yang lain, social capital bersifat produktif, memungkinkan pencapaian suatu sasaran tertentu yang tanpa social capital akan sulit dicapai. Di Indonesia, social capital bukan barang baru, karena ada beberapa pranata tradisional pertanian di Jawa yang memungkinkan orang kaya mendistribusikan makanan kepada orang miskin, sistem banjar di Bali yang memungkinkan iuran di kala ada kepentingan keluarga, sistem rumah panjang di Sumatera dan lain-lain yang penuh dengan kegiatan sosial kapital. Pada era sekarang, perkumpulan remaja masjid, pengajian, persekutuan doa, arisan dan lain-lain merupakan potensi social capital. Di Indonesia, social capital baru-baru ini diteliti oleh Bank Dunia dengan 2 kesimpulan yang  saling bertentangan:
Grootaert (1999) menemukan bahwa rumahtangga di Indonesia dengan social capital yang lebih tinggi ternyata mendorong pemilikan aset lebih banyak, akses kredit lebih mudah, dengan pengeluaran lebih banyak. Sementara Miguel dan lain-lain (2001)menemukan dari pelbagai data (PODES, SUPAS, IFLS, dan
lain-lain) bahwa industrialisasi meningkatkan social capital di daerah yang bersangkutan, sementara mengacaukan social capital di daerah tetangga sekitarnya. Jadi berkaitan dengan desentralisasi, daerah dengan pendapatan tinggi akan mengalami peningkatan social capital, sementara daerah yang berpenghasilan rendah akan mengalami kerenggangan social capital. Ini baru merupakan hipotesis yang perlu diuji. Bagaimana relevansi dengan kesehatan? Banyak bukti menunjukkan bahwa pemerataan pendapatan di masyarakat lebih berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan. Bentuk ekstrim social capital adalah uluran bantuan orang kaya terhadap budak dalam sejarah Amerika yang mengakibatkan kesehatan orang miskin waktu itu lebih baik (menurut pemenang Nobel, Robert William Fogel). Jadi, mungkin "makan nggak makan asal kumpul" yang sering jadi bahan tertawaan itu mengandung  kebenaran juga, asal bisa dirinci sebagai social capital yang produktif.
Salam, Hari Kusnanto

4. Wed Feb 20, 2002 11:56 pm "Riswan" <riswan@xxx>

Ibu Ilsa.
Guyon dulu ibu; dan saya bersyukur bila orang punya mimpi dan itu namanya masih produktif dimana "mimpi" itulah salah satu sumber dari kreatifitas dan inovasi-inovasi, jika dibandingkan bila saya ini sedang pada kondisi hidup kagak dan matipun kagak.
Komentar saya mungkin refleksi terhadap pengalaman selama ini, dimana "trust" itu hal yang sangat esensial; dimana dalam kondisi apapun faktor trust yang utama, dan jika kalau kita  "maling" pun; harus jujur atau ibaratnya seperti "lurus-lurus batang jagung" sehingga bisa berfungsi "tombol pembagi kalkulator" bisa berproses secara demokrasi.
Tentang tumbuhnya "social capital" di kelompok masyarakat memang "core driver"nya ialah "ancaman" dan "kejujuran" dari pihak-pihak yang mengatur atau pihak yang menjajah, sehingga terbentuklah budaya "mangan ora mangan kumpul". Dan kondisi ini merupakan hal ini wajar dan positif sesuai komentar Pak Hari Kusnanto, sebab mind-set bangsa kita telah dicetak dan tercetak selama 3,5 abad oleh penjajah yang didominasi oleh Belanda, dan kita butuh waktu diperkirakan selama 3,0 abad lagi untuk bisa bebas dari "ketidakjujuran" dan kesenangan atau hobby untuk "mencopet milik sendiri" (tentunya dengan catatan bila bangsa Indonesia tidak akan dijajah lagi). Jadi disini dapat diasumsikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan trust atau social capital. Disisi lain juga akan tergantung bagaimana bentuk pola siapa yang menjajah, dan tentu berbeda antara pola Barat dengan Timur; serta termasuk pola penjajah dari bangsa Indonesia sendiri yang terkadang lebih tidak beradab (bedanya antara memelihara dan beri makan "kerbau" dengan "ayam")
Selanjutnya tentang beban dinas kesehatan saya setuju dengan pendapat Ibu untuk beri perhatian utama menata "mind set" para manajer di dalam memanaje unit kerja; sehingga punya kesadaran bahwa unit kerja dinas itu adalah merupakan kumpulan-kumpulan gabungan gabungan antara unit kerja "warung" dan "sanggar" dengan aktor-aktor pemeran utama gabungan dari "petualang" dan "intelektual". Itulah Ibu era kita yang tetap disyukuri dan dinikmati dalam melakonkan "karma" masing-masing sehingga mintalah yang menjajah kita itu adalah juga Tuhan masing-masing (tentunya bagi yang masih punya Tuhan). Wassalam

5. Thu Feb 21, 2002 4:03 pm "Dr. Ilsa Nelwan, MPH" <pikanel@xxx>

Pak Riswan,
Soal dijajah Belanda itu apakah kita begini akibat pernah dijajah Belanda, atau justru bisa dijajah Belanda karena memang begini dari sono nya ?. Coba deh, yg namanya pemimpin sekarang, nggak malu tuh mencuri, menipu... walaupun dikemas bagus dengan bahasa euphermisme: Korupsi jadi gratifikasi, menggunakan bahasa hebat hebat yg tidak ada isinya. Harusnya kan pemimpin memberikan sesuatu, tetapi yg kita saksikan saat ini 9 dari 10 orang yg menyatakan dirinya pemimpin malah mengambil sesuatu untuk diri dan keluarganya..
Ada suatu buku yg lagi  "beken" judulnya  "Can Asian think" ?, penulisnya seorang India aku lupa namanya. Dia menyoroti  bahwa orang Asia sering kali terlalu "nrimo" niali nilai yg didiktekan oleh orang barat, lalu dia juga menyatakan bahwa  seringkali  orang Barat pun menggunakan standar ganda. Lalu dia  bikin daftar panjang bagaimana  pers barat saat ini dengan sewenang wenang mendiktekan nilai mereka. Pikir pikir bener juga ya, coba lihat AS yg katanya kampiun demokrasi, atas nama pemberantasan terorisme mereka bunuh berapa banyak orang di Afghanistan. Lalu dia bikin pernyataan yg  nggak enak : Belum ada negara dg penduduk beragama mayoritas islam  yg berhasil mengatasi keterbelakangannya. Lumayan juga buku itu untuk membangunkan kita dari asumsi yg belum tentu benar... salam,
ilsa

6. Thu Feb 21, 2002 6:32 pm "Riswan" <riswan@xxx>

Ibu Ilsa. Terima kasih dan pingin juga dan tertarik akan baca buku yang direferensikan ke kami. Mohon infomrasi lengkap buku tersebut. Salam

7. Sun Feb 24, 2002 12:18 am Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Hallo para peserta miling-list.
Pada diskusi minggu ketiga ini saya mencatat adanya faktor eksternal Dinas Kesehatan yaitu berupa kekuatan masyarakat yang menjadi isu sentral diskusi. Dalam istilah akademiknya disebut sebagai “social capital”. Menurut pakar sejarah di Amerika Serikat, “social capital” merupakan faktor penentu utama, namun juga harus diimbangi dengan peranan pemerintah yang tepat. Dalam hal ini saya melihat bahwa social capital ini belum dijadikan strategi pemerintah untuk mengembangkan pelayanan kesehatan. Di Indonesia sebenarnya banyak sekali modal sosial ini, termasuk perkumpulan-perkumpulan keagamaan LSD, dll. Dalam rangkuman ini saya berharap isu mengenai social capital ini akan banyak dibahas oleh teman-teman di seluruh pelosok tanah air. Atau mungkin pak Hari dkk mau mengembangkan penelitian mengenai social-capital ini.
Mengenai sumber pembiayaan, peran masyarakat juga belum maksimal. Sebagai gambaran: saya sering ke Bali, dan melihat bahwa fasilitas pelayanan kesehatannya relatif buruk dibandingkan dengan keadaan restoran, hotel dan tentunya pura-pura. Mengapa? Karena masyarakat Bali mungkin menilai bahwa kesehatan merupakan urusan pemerintah pusat. Jadi mereka tidak hirau terhadap kumuhnya rumahsakit atau minimnya kegiatan puskesmas. Waktu tahun lalu saya ke Filipina, ternyata Puskesmasnya mempunyai sumber pembiayaan berupa sumbangan-sumbangan dari masyarakat yang mau menyumbang. Jadi antara masyarkat dengan lembaga pelayanan kesehatan, jaraknya tidak lebar. Masyarakat merasa memiliki. Dalam hal ini ada kasus sebaliknya di Indonesia. Seorang dokter Puskemas dianggap salah oleh Inspektorat karena perbaikan atap puskesmasnya dibiayai oleh seorang kaya di kecamatannya.
OK kembali ke masalah masa depan Dinas Kesehatan:
Dari para pemberi komentar, Pak Charles, Bu Ilsa, dan pak Riswan ada satu konsep kunci yang bisa saya tangkap, yaitu adanya proses perubahan nyata akibat desentralisasi.  Kebijakan Desentralisasi telah merubah tata hukum dan cara mengalokasikan anggaran pemerintah, serta adanya restrukturisasi (misal penggabungan Kanwil dengan Dinas Kesehatan Propinsi).
Akan tetapi kebijakan desentralisasi yang efektif setahun ini belum merubah:

  1. Sistem manajemen lembaga;
  2. Cara memandang (paradigma), cara berfikir, dan budaya kerja manusia kesehatan.
  3. Budaya kelembagaan (Organizational Culture).

Dengan keadaan yang masih dalam masa awal ini memang pertanyaan mengenai masa depan Dinas Kesehatan, apakah (1) dikembangkan; (2) status quo; atau (3) dilikuidasi (dibubarkan), perlu kita cermati dengan sebaik-baiknya. Pendapat pak Riswan untuk dibubarkan saja mungkin perlu kita lihat sebagai salahsatu gejala yang harus dicermati mengapa ada pendapat ini.
Oleh karena itu, dalam diskusi di minggu ke 4, sebagai moderator akan berusaha mengajak para peserta miling-list untuk mencermati: strategi apa yang harus ditempuh oleh Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten agar dapat bekerja dengan baik. Mengingat perbedaan (variasi) antara daerah, tentunya akan ada perbedaan antara DKI dengan Bengkulu, antara Kota Yogyakarta dengan Kota Palangkaraya. Akan tetapi tentunya ada persamaannya. Untuk itu saya akan menanyakan apakah dalam strategi pengembangan ini kita akan mengacu pada konsep “good-governance” yang sekarang menjadi kata kunci dalam tata pemerintahan di dunia.
Bagi  para peserta yang masih awam dengan istilah “good-governance”, berikut ini saya kutipkan maksudnya dari berbagai macam sumber:

Konsep Good Governance:
Konsep ini berkembang sejak dunia menyadari adanya kegagalan dalam program Structural Adjustmen Program. Pada program ini justru negara miskin semakin kacau karena pemerintahnya tidak berdaya akibat kemiskinan, tekanan pembayaran hutang, yang pada akhirnya mengakibatkan jurang pemisah antara yang miskin dan kaya menjadi sangat besar. Rusia pada saat ini merupakan salahsatu negara yang mengalami proses dimana jurang pemisah antara yang kaya dan miskin menjadi sangat besar. Dalam hal ini terjadi ketidak merataan pembangunan. Kecenderungan di Rusia ini sudah dialami negara-negara lain termasuk Indonesia. Hal serupa dialami di negara-negara sosialis yang mengubah sistemnya ke kapitalisme. Tanpa ada suatu sistem yang mengacu pada good-governance maka ketidak merataan akibat pembangunan akan sangat besar.
Pada tahun 1997, Bank Dunia mengeluarkan Laporan Pembangunan berjudul State in Changing World. Dalam laporan ini ditekan mengenai perlunya peranan negara dalam memperbaiki pemerataan dan kegagalan pasar. Dalam laporan ini disebutkan bahwa  peran negara ada 3 tingkat: (1) peranan minimal; (2) peran menengah; dan (3) peran sebagai pelaku kegiatan. Pada peran minimal, pemerintah bertugas untuk menyediakan pelayanan publik murni, misalnya pertahanan, tata hukum dan perundangan, hak cipta, manajemen ekonomi mikro, dan kesehatan masyarakat. Disamping itu pemerintah harus meningkatkan program untuk mengatasi kemiskinan, melindungi orang miskin, dan mengatasi bencana.  Pada peran yang lebih meningkat maka dalam kegiatan mengatasi kegagalan pasar, pemerintah harus melakukan berbagai hal misalnya menjamin pendidikan dasar, melindungi lingkungan hidup, mengatur monopoli, mengatasi berbagai hal yang terkait dengan tidak seimbangnya informasi, sampai menyediakan jaminan sosial. Pada level pemerintah berperan sebagai pelaku kegiatan maka akan ada beberapa kegiatan seperti mengkoordinasi swasta supaya tidak terjadi kegagalan pasar, dan melakukan kegiatan untuk mengatasi ketidak merataan dengan tindakan re-distribusi.
UNDP, sebagai lembaga pengembang untuk pembangunan di PBB memberi perhatian besar pada good-governance, serta peran pemerintah. Ada beberapa poin penting dalam konsep good-governance di UNDP:

  1. Governance can be seen as the exercise of economic, political and asministrative authority to manage a conuntry’s affairs at all levels. It comprises the mechanisms, processes and institutions through which citizens and groups articulate their interests, exercise their legal rights, meet their obligations and mediate their differences. Good governance is, among other things, participatory, transparent, and accountable. It is also effective and equitable. And it promotes the rule of law....
  2. Governance has three legs: economic, political and administratitive... Governance encompasses the state, but it trancends the state by including the private sector and civil society.

Usaha
Pemerintah
Masyarakat
WHO (1998) setuju dengan pendekatan UNDP dan memberikan interpretasinya dalam sektor kesehatan sebagai berikut:
Good governance for health is the enabled participation of those concerned in the formulation and deployment of policies, programmes and practices leading to equitable and sustainable health system.
Dalam Laporan WHO tahun 2000 disebutkan bahwa isu penting adalah arti peran “stewardship” pemerintah.
------------------------Kembali ke diskusi ------------
Dengan mengacu pada konsep Good-governance ini (jika anda setuju...jika tidak setuju anda boleh menggunakan konsep lain), saya berharap para peserta miling-list dapat mengajukan pandangan mengenai bagaimana bentuk/keadaan/visi Dinas Kesehatan di masa mendatang dan bagaimana perannya(misinya) di sektor kesehatan.
Dengan adanya visi yang tepat, maka perubahan Dinas Kesehatan dapat mempunyai arah sehingga manusianya, sistem manajemen lembaga, dan budaya kerjanya dapat dikembangkan.
Kalau tidak ya.....kita mungkin mengalami proses perubahan tanpa ada sistem.
Saya berharap banyak peserta dari berbagai daerah yang akan menuliskan di miling-list ini. Mungkin nanti kita akan melihat variasi pemikiran. Silahkan bebas menuliskannya.
Salam dari moderator.

8. Sun Feb 24, 2002 7:28 am "Dr. Ilsa Nelwan, MPH" <pikanel@xxx>

Pak Laksono,
Terimakasih atas rangkumannya yg padat dan jelas. Satu catatan: Francis Fukuyama adalah ekonom yg tidak percaya pada teori ekonomi yg "ceteris paribus" (mengandaikan masalah lain tidak berubah), memang bukunya yg terkenal adalah "the end of history".
Mengingat pada saat yg sama kita berada di era desentralisasi sekaligus menghadapi globalisasi, saya ingin urun rembuk suatu artikel  dari Amartya sen, seorang ekonom peraih nobel bidang ekonomi 1998 : "10 tesis tentang globalisasi" dalam kaitan dengan  keraguan  the world economic order yg mengakibatkan inequalities

  1. Kelompok pemrotes anti globalisasi di Seattle, Praha, Quebec tidak memprotes globalisasi
  2. Globalisasi  tidaklah sesuatu yg baru, juga bukan westernisasi
  3. Globalisasi sendiri bukanlah kebodohan, karena telah membuka dunia secara ilmiah dan kultural dan menguntungkan  secara ekonomi. Masalah kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan mengisolir kemajuan treknologi , efisiensi perdagangan internasional dari mereka. Yang diperlukan adalah  distribusi yg lebih adil dari manfaat globalisasi
  4. Isu sentral secara langsung maupun tak langsung adalah inequalities diantara dan didalam negara, pertanyaan penting adalah bagaimana  berbagai  keuntungan potensial diantara  negara kaya dan miskin dan diantara kelompok dalam negara
  5. Yg penting diperhatikan adalah tingkat inequality nya bukan  perubahan marginalnya.
  6. Masalahnya adalah bukan adanya  keuntungan bagi semua, tetapi bagaimana distribusi yg berkeadilan
  7. Ekonomi pasar konsisten  dg berbagai perbedaan institusi dan bisa menghasilkan  outcome yg berbeda pula. Disamping perlunya kebijakan publik yg berpihak pada orang miskin (berkaitan dg pendidikan , kesehatan, lapangan kerja, landreform, fasilitas kredit, perlindungan hukum, pemberdayaan perempuan, dll) distribusi  keuntungan interaksi internasional  tergantung juga pada  pengaturan global (trade arrangements, regulasi paten, inisiatif medis, pertukaran pendidikan, fasilitas untuk  diseminasi teknologi, kebijakan lingkungan dll)
  8. Dunia telah berubah sejak  kesepakatan Bretton woods: Arsitektur ekonomi dunia yg berdasarkan Bretton Woods (IMF, Bank Dunia,dsb) mungkin sudah tidak sesuai. Pada saat itu (1944) negara negara di Asia Afrika masih didominasi oleh kekuatan imperialis;toleransi pada insecurity dan kemiskinan  masih sangat besar;gagasan hak azasi manusia masih lemah, LSM belum muncul sebagai suatu kekuatan;lingkungan belum dianggap penting, dan demokrasi pada saat itu belum dilihat  sebagai hak global.
  9. Diperlukan perubahan kebijakan dan institusional. Keseimbangan kekuatan yg merefleksikan status quo pada th 40an juga perlu dilihat kembali. MIsalnya  manajemen konflik dan pengeluaran untuk senjata. Laporan Human Development th 1994 menunjukkan bahwa  lima pengekspor senjata  terbesar adalah anggota dewan keamanan sekaligus mereka juga bertanggung jawab atas  86 persen ekspor senjata konvensional. Tidak heran bahwa dunia sulit berurusan secara efektif dengan "merchant of deaths" ini
  10. Kita punya alasan kuat  untuk mendukung globalisasi  dalam arti terbaiknya. Namun  perlu dilakukan pembahasan kritis terhadap institusi dan kebijakan yg berlangsung, dengan membahas secra  sungguh sungguh berbagai hal yg menimbulkan keraguan terhadap globalisasi tersebut. Tentang institusi Dinas Kesehatan di masa desentralisasi ada satu hal yg menurut pendapat saya penting dipikirkan yaitu :siapa orangnya ?. Isu health sector leadership menjadi crucial karena pada saat ini  yg sangat terasa adalah kekosongan leadership. Secara sistematis tatanan pemerintah dalam 10 tahun terakhir (paling tidak) sudah memandulkan  munculnya pemimpin kesehatan di berbagai tingkat. Hal ini tidak terlepas dari lingkungan politik yg menganggap masyarakat sebagai masa ambang, dimanage oleh teknokrat yg diatur oleh raja jawa  dengan dukungan tentara yg kebal hukum. Oleh karena itu yg perlu dipikirkan adalah bagaimana desentralisasi memberikan hak  atau bertanggung jawab pada masyarakat ? untuk kesehatan lebih sulitnya karean kalaupun mau transparansi di bidang kesehatan sangat sulit, karena consumer ignorancenya sangat besar.

Jadi dalam good governance yg pelu dipikirkan adalah  bagaimana membuat organisasi dinas kesehatan menjadi efektif mengemban tugasnya untuk melaksanakan kebijakan publik: meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan termasuk  diseminasi informasi kesehatan. Didalamnya termasuk memilah pegawai yg banyak  yg tidak produktif disalurkan : dilatih, dididik, atau dipensiunkan.  Lalu mulai dengan talent scouting pemimpin yg baik untuk masa depan. Tetapi hal itu tidak terjadi di ruang hampa, jadi  bagi sedikit orang yg peduli (mungkin juga dg keterbatasan kemampuan yg ada) pada saat ini adalah bagaimana "change management" harus dilakukan secara inklusif... Tidak terlepas dari perbaikan menyeluruh secara politis : perubahan sistem pemilihan umum menjadi sistem distrik, perubahan sistem presidensiil menjadi parlementer... barangkali, susah deh!. Tapi perlu ada optimisme, kalau nggak pasti makin hancur negara ini.
salam hangat, ilsa

9. Sun Feb 24, 2002 8:27 am Triono Soendoro <tsoendor@xxx>

IN: Tentang institusi Dinas Kesehatan di masa desentralisasi ada satu hal yg menurut pendapat saya penting dipikirkan yaitu :siapa orangnya ?. Isu health sector leadership menjadi crucial karena pada saat ini yg sangat terasa adalah kekosongan leadership. Jadi dalam good governance yg pelu dipikirkan adalah bagaimana membuat organisasi dinas kesehatan menjadi efektif mengemban tugasnya untuk melaksanakan kebijakan publik: meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan termasuk diseminasi informasi kesehatan. Didalamnya termasuk memilah pegawai yg banyak yg tidak produktif disalurkan : dilatih, dididik, atau dipensiunkan. Lalu mulai dengan talent scouting pemimpin yg baik untuk masa depan. Tetapi hal itu tidak terjadi di ruang hampa, jadi bagi sedikit orang yg peduli (mungkin juga dg keterbatasan kemampuan yg ada) pada saat ini adalah bagaimana "change management" harus dilakukan secara inklusif...
TS: jawabnya singkat. Strategic Leadership and Learning Organization (SLLO) yang sudah dirintis menuju "profound change" merupakan sal;ah satu alternatif baru. Propinsi Banten, beberapa kabupaten di Jabar
telah menyatakan kesediaanya. Jalan menuju "life long learning" memerlukan komitmen penuh. Dikes sebagai libero, diawali oleh diri sendiri. Sulsel, NTT, NTB juga menyetakan diri untuk SLLO yang tentunya memerlukan dukungan universitas setempat. Berulangkali saya kemukakan, dimulai dari self learning, terutama para aktor di universitas. Selama masih berpikir reductionist, cenderung menyalahkan, sulit untuk merubah. Perubahan dimulai dari diri sendiri sebelum menciptakan bagi orang lain. Usul saya,  susun program perubahan sistematis dalam 5 tahun mendatang. Kita lihat "siapa" yang nafasnya panjang. Saya amati di web, yang dilakukan adalah "UDE"—efek yang tidak diharapkan. Kini saatnya get down to reality. Dana sudah tersedia di berbagai kabupaten; itupun dengan "utang". Kalaupun dana
sedikit, tidak berarti sulit untuk berbuat perubahan.

10. Mon Feb 25, 2002 12:41 am mieke dhipa anggreani <mieke_anggraini@xxx>

Saya Mieke,MMPK-Intensif,asal Dinas Kesehatan Samarinda Kaltim,mengirimkan tanggapan social-capital terhadap Dinas Kesehatan.

11. Sun Feb 24, 2002 7:43 pm Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Yth bu Mieke.
Terima-kasih atas tanggapannya. Tapi mohon lain kali jangan dibikin di attachment, ini untuk menghindari adanya perpindahan virus-virus dan juga memudahkan memberi komentar. OK, mengenai social capital saya terus terang saja bukan ahlinya...jadi takut untuk komentar. Nanti salah. Saya akan minta pak Hari Kusnanto untuk menanggapinya...SIlahkan pak Hari untuk menanggapi bu Mieke.
Terima-kasih. Laksono

12. Sun Feb 24, 2002 8:32 pm "Riswan" <riswan@xxx>

Yth. Moderator
Komentar sisipan tentang minggu ketiga
1. Tentang capital social
Berdasarkan pengalaman lapangan memang sudah saatnya mulai beralih dari "ngutang capital" ke "social capital. atau untuk masa transisi mungkin masih tetap capitalnya bersumber dari masyarakat plus ditambah dengan / dari hutang, sekali lagi ngutang itu hanya yang pantas layak dihutang. Sebetulnya modal sosial memadai dan oleh masyarakatnya cukup besar kontribusinya; tapi sayang.... sekali lagi sayang tidak pernah di audit (penyebabnya lupakan saja karena inti kita belum mau kita keberpihakan kepada masyarakat sasaran). Lalu pada saatnya tergantung siapa yang panjang nafasnya; dan kalau kolaps mari kita relakan untuk dikuburkan rame-rame, sebab ini sangat positif dalam rangka proses pembelajaran. Untuk itu kita tak usah takut kehilangan ................................... Tindak lanjutnya sebaiknya diusulkan bahwa "capital social" sebagai strategi pemerintah, dan tentunya sebelumnya kita teliti dulu lapangan saat ini berapa sen-kah per kapita realnya besarnya kontribusi dan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan (minimal untuk pelayanan kesehatan dasar lokal, sebab mungkin scope inilah yang akan disubsidi oleh pemerintah melalui ngutang ke pihak ketiga yang sebaiknya tidak ke LN bila kagak terjajah atau diteror). Mari kita Pak Hari untuk melakukan penelitian.
2. Tentang mobilisasi "capital social"
Memobilisasi sumber pembiayaan dan peran masyarakat memang betul kitanya yang belum mau memaksimalkannya. Untuk itu masyarakat tidak sebaiknya untuk disalahkan, sehingga diciptakan jarak yang makin lama masing-masing semakin melebar. Mungkin ada baiknya mulai tahun depan sudah berani ditanya dulu berapa besar capital social yang ada di Puskesmas (atau mari kita punya mata air atau tidak Puskesmas bila kran proyek dana Pusat ditutup), dan baru sudah itu hitung kebutuhan riel Puskesmas yang harus disubsidi atau bukan dibiayai pemerintah lagi; terutama untuk non pelayanan dasar. Saya kalau dibeginikan yang rugi bukan rakyatnya; tapi mungkin kite-kite inilah sehingga perlu dikembalikan ke titik kewajaran.

Tentang Visi Strategi Masa depan Dinas Propinsi dan Kabupaten
Strategi bagaimana merubah diri dari "Niagara Dollar Falls" menjadi "Village Water Springs" dengan leadership tetap oleh profesionalisme dokter plus. Kata kuncinya selain kelompok ini belum punya "kode etik yang konsisten" (maaf jangan takut ini pengalaman kami selaku latar belakang paramedis dengan jam terbang pas 30 tahun Juli mendatang di lapangan). Sebab kalau budaya makan sendok berdenting-denting itu biasa; tapi belum ada yang pecahkan piring ts, kecuali ..............  
Konsep good governance tetap konsisten diupayakan sampai tingkat pengembangan mana bisa dicapai oleh masing-masing lokal. Untuk jenis peran akan apa akan diambil oleh masing-masing tingkat tentu disesuaikan dengan menu kondisinya masing-masing pula. Mudah-mudahan upaya memperbaiki pemerataan dan kegagalan pasar bisa terkoreksi dengan perencanaan pelaynan kesehatan dengan fokus: "One Village One Product", misalnya. Kalau perlu orang miskin tak perlu dihiraukan lagi; sebabnya semuanya kita ini sudah menjadi atau masih miskin; ya minimal miskin spiritual (seperti contohnya Riswan). Hal ini penting sekali dalam sisi perencanaan karena kebutuhan si kaya dan si miskin belum pernah dipisah-pisahkan alokasi dananya secara tegas dan direalisasikan. Contoh menarik lagi sejak Nopember 2001 yang lalu di Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Rejang Lebong terdapat rakyat yang makan gadung (keladi beracun). Birokrat teriak-teriak surplus panen; rakyat lumayan juga ada yang banyak mati karena makan gadung. Siapa salah ini kampungnya pejabat-pejabat; dimana daerah lain dimanage dan kampung halaman sendiri termimpikan. Sisi positifnya mungkin mulai bisa dikembangkan "bubur gadung" untuk program gizi dan sistem pengolahan gadung cara desa perlu diteliti ulang, sehingga ini inovasi baru "nasi gadung" minimal untuk orang yang orang miskin.
Untuk itu sekali lagi perlu dipertahankan "konsistensi" dan "penghargaan kebutuhan lokal" secara konsep. Untuk peran lebih baik hanya fokus kepada pelayanan kesehatan dari desa sampai Puskesmas saja yang diurus oleh pemerintah. Di luar itu silahkan pasar mengadaptasikan kebutuhannya dengan konsisi pasar. Rupa-rupanya "rakyat miskin kagak gampang koit" walau dihantam gempa; banjir dibandingkan rakyat non miskin. Tingkat propinsi lebih diarahkan untuk bekerja lebih banyak "otak" dari pada "otot" nya yang artinya bukan hanya berbekal surat tugas dan SPPD lalu ke lapangan dengan laporan yang langka adanya; dari numpuk atau menumpukkan diri, kalau dikebut "manisan"nya maka "lebah ngelayap bertembangan". Jadi bukan menghasilkan madu, tapi madulah menghisap lebah; dengan catatan bila ingin tetap sustain systemnya yang good governance. Kesimpulannya peran propinsi dan kabupaten hanya untuk perencanaan dan monitoring evaluation fokusnya. Untuk ke lapangan bukan bintek lagi; tapi Operational Research; advocacy; dan negosiasi dan menjual program untuk kemitraan dengan swasta. Arah perubahan dinas sudah jelas bagaimana menggabungkan beban total kewajiban pemerintah diminuskan beban operasional kerja lapangan yang bukan kelasnya. Masa iya jangan sampai dipertahankan "yang nangkap nyamuk saja masih oleh petugas propinsi atau kabupaten"? misal dulunya. Terima kasih dan salam

13. Sun Feb 24, 2002 10:44 pm hkusnant <hkusnant@xxx>

Hello All,
Social capital memang masih dalam tahap konseptualisasi, walaupun sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Adam Smith (1759) dalam buku The Theory of Moral Sentiment sudah melontarkan konsep "connectedness". Isyu yang muncul sekarang adalah dalam hal pengukuran, khususnya ketika orang akan melakukan kuantifikasi. Kawachi dari Harvard School of Public Health (1997) mengukur social capital berdasarkan: keanggautaan di kelompok sukarelawan di masyarakat, saling percaya (trust seperti yang dijelaskan Dr. Ilsa), persepsi atas kegotong-royongan di masyarakat (perceived norms of reciprocity). Penelitian di Australia (Bullen dan Onyx, 1998) menggunakan 8 ukuran: partisipasi di masyarakat lokal, hubungan bertetangga, hubungan dengan teman dan keluarga, hubungan kerja, sikap proaktif di masyarakat, merasa adanya rasa aman dan percaya, toleransi terhadap keberagaman dan nilai terhadap kehidupan. Ada beberapa isyu lain yang bersifat metodologis, terutama berkaitan dengan pengukuran pada tingkat agregat (social capital adalah public good bukan individual good). Lochner et al. (1999) menganjurkan untuk mengukur tidak hanya karakteristik individual lalu digabung, tetapi terutama karakteristik yang bisa diamati hanya pada level masyarakat. Menurut Lisa Berkman (2000),
pengamatan ekologis, juga disebut integral variable tersebut, perlu dikembangkan dan diuji secara empirik. Masih banyak yang bisa kita teliti di Indonesia mengenai hal ini, terutama bersangkut paut dengan istilah gotong royong (konon Bung Karno pernah memeras Pancasila menjadi Trisila kemudian
menjadi Satu Sila, yakni "gotong royong"). Namun demikian, semoga gambaran Robert Putnam (1995) mengenai social capital "bowling alone in America" tidak dipelesetkan menjadi "smoking alone in Indonesia".
Salam, Hari Kusnanto

14. Mon Feb 25, 2002 6:27 am hkusnant <hkusnant@xxx>

Pak Riswan dan teman-teman sekalian,
Menarik sekali komentar mengenai situasi "social capital" sekarang. Terutama dengan tercabik-cabiknya jalinan sosial akibat krisis. Di Rejang Lebong penduduk mati karena keracunan gadung. Saya ingat dulu di Gunung Kidul tahun enampuluhan banyak yang kwashiorkor karena hanya makan gaplek. Pada krisis yang lalu, penduduk Gunung Kidul sudah mulai mengenal protein dengan mengolah bekicot. Belum lama berselang di Banyumas masih ada yang keracunan bongkrek, karena hanya itu lauk yang terjangkau kantong. Di daerah-daerah miskin itu, bentuk "social capital" yang cukup menolong adalah adanya migran ke luar daerah yang berhasil mengumpulkan sedikit uang sisa untuk dikirimkan ke rumah. Dengan adanya krisis sampai sekarang, sulit sekali bagi para migran tersebut untuk mengumpulkan uang karena terpuruknya sektor formal dan ketatnya persaingan di sektor informal. Banyak yang berpendapat bahwa kopi dan the memiliki prospek yang baik. Tetapi pak Laksono dan saya baru saja ikut seminarnya Jeffrey Sachs (ahli krisis ekonomi dan profesor perdagangan internasional dari Harvard)yang  menjelaskan bahwa hasil perkebunan itu tidak bisa diandalkan. Nah, bagaimana social capital dapat didayagunakan untuk mendukung anak cucu kita biar inovatif dan kreatif menciptakan produk unggulan, tidak hanya superkonduktor atau superchips, tapi supranatural products..he..he..
Salam, Hari Kusnanto

15. Mon Feb 25, 2002 7:28 pm "Riswan" <riswan@xxx>

Pak Hari Kusnanto
Terima kasih komentarnya; dan itulah namanya berada dalam posisi di depan mata menghadapi "buah kepahyang", bila dimakan akan mabuk dan bila dibuang akan terasa sayang sayang. Mabuk kepahyang memang itulah kejadiannya dan makanya tak ada "mabuk alas sorban". Memang betul kejadian di kasus ini di sekitar daerah Kepahyang yang jaraknya 60 km dari kota Bengkulu menuju pelintasan ke kota Curup. Ekonomi masyarakat yang bersandar ke hasil kopi dari kebun tradisional adalah pola masyarakatnya; dimana pada tingkat harga kopi normal untuk 1 kg kopi setara 25 kg beras, dan pada saat paceklik untuk 1 kg beras butuh jual 2 kg kopi (kalau bila kopinya ada). Daerah secara alam tidak miskin; tapi manusianya masih jahiliyah dan pengalaman menunjukkan "rasa sosial" nya agak beda. Kalau diobservasi rasa sosial mereka terasa agak aneh yang lebih menunjuk terhadap "kepentingan diri sesaat" yang menjadi kunci di dalam proses transaksi sosialnya. Itulah bedanya dengan daerah yang sudah bisa untuk mana yang untuk kepentingan sesaat dan mana untuk kepentingan jangka panjang. Daerah ini juga terkenal dengan tingkat kriminilitasnya dan budaya ini juga agak terbawa-bawa bila sudah terjun ke dunia birokrat. Salam

16. Mon Feb 25, 2002 10:55 pm PRIYANTO SISMADI <sismadi@xxx>

Adakah dibicarakan disini peran swasta sebagai pelaku dalam pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan otonomi sehingga beban pemerintah daerah tidak perlu seperti saat ini yang tidak saja menanggung biaya promotif tetapi juga beban untuk biaya kuratif.

17. Tue Feb 26, 2002 1:49 am Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Yth Pak Priyanto.
Ya...peran swasta merupakan hal yang sangat penting dalam desentralisasi pelayanan kesehatan. Swasta sendirisebenarnya ada dua kelompok: (1) for profit; dan (2) non-profit. Secara hukum dan faktual kedua jenis swasta tersebut sudah beroperasi di berbagai daerah dan di berbagai sub-sektor kesehatan. Sub-sektor obat, sebagai contoh, merupakan bidang usaha swasta for-profit. Rumahsakit juga sudah ada yang for-profit.
Silahkan pak Priyadi memberi tanggapan mengenai peran swasta. Saya amati Grupnya pak Sismadi saat ini sedang ekspansi besar. Dalam era desentralisasi ini peluang swasta sangat besar.
Salam. Moderator.

18. Tue Feb 26, 2002 9:17 am "Gunawan Setiadi" <gsetiadi@xxx>

Helo All
Prinsip good governance yang penting adalah: (1) akuntabilitas ke rakyat. Dinkes, dll harus mempertanggung jawabkan kerjanya ke rakyat, bukan ketasannya. (2) transparansi, keterbukaan. Semua anggota masyarakat ikut mengawasi, (3) anti KKN.
Manifestasinya dilembagakan dalam bentuk: (1) adanya Dewan Kesehatan Kabupaten yang melibatkan wakil masyarakat, (2) Laporan akuntabilitas tahunan yang dipublikasikan sehingga semua orang bisa menilai hasil kerja Dinkes, (3) adanya LSM, dll yang mengawasi yang tentunya juga diperbolehkan
mendapatkan informasi (4) adanya mekanisme complaint resolutuion. Masyarakat punya jalur untuk protes dan penyelesaian dari protes tersebut. Kalau di swasta dikenal sebagai Corporate Governance
salam. gunawan

19. Tue Feb 26, 2002 9:16 pm Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Thanks pak Gunawan.
Dari pemaparan pak Gunawan dan konteks good-governance, mohon dikomentari mengenai hubungan antara Board of Health (Dewan Kesehatan Kabupaten/Kota/Propinsi) dengan Dinas Kesehatan/Bappeda (pemerintah) pada umumnya. Ada pemahaman yang mungkin keliru, bahwa Board of Health akan menggantikan peran Dinas Kesehatan. Saya melihat id FIlipina, Board tsb tidak menggantikan peran DInas Kesehatan.
Kalau kita analogkan dengan corporate governance (baru saja ada seminar di PMPK UGM mengenai good corporate governance untuk rumahsakit), apakah ada persamaan antara fungsi Board of Directors/Board of Trustees di RS dengan Board of Health di level Kabupaten?
Jadi perlu ada deskripsi mengenai peran DInas Kesehatan dan peran Board of Health. Silahkan berkomentar. TK.
Laksono

20. Wed Feb 27, 2002 7:02 am, "Dr. Ilsa Nelwan, MPH" <pikanel@xxx>

Pak Laksono yth,
Maksud Dewan kesehatan adalah menangkap aspirasi masyarakat di bidang kesehatan, jadi menampung dan menganalisa usulan dari masyarakat dlm bidang kesehatan. Di dinas kesehatan sebaiknya ada suatu tim yg menggodok dan menilai berbagai proposal  secara teknis dan selanjutnya diserahkan kembali ke  dewan kesehatan untuk ditetapkan proposal mana yg diterima dan yg tidak diterima atau menentukan prioritas proyek. Jadi Dewan kesehatan tidak  melakukan pelaksanaan kegiatan, tetapi mewakili masyarakat madani. Mungkin bedanya dengan  Board of trustees di tk  RS, Dewan kesehatan lebih  bersifat heterogen dan mengupayakan pembangunan berwawasan kesehatan. Sedangkan Dinas kesehatan melaksanakan berbagai program kesehatan.
salam, ilsa

21. Thu Feb 28, 2002 10:47 am Asnawi Abdullah <As_nawi@xxx>

Yth Member sekalian,
Recently Journal Health Policy and Planning published a research report on social capital, precisely how to measure social capital within health surveys.
Mungkin yang tertarik bisa membaca di journal tersebut.
Edisi, Health Policy Plan. 2002;17 106-111. Untuk melengkapi apa yang telah Pak Hari sampaikan.
Wassalam. Asnawi

22. Thu Feb 28, 2002 9:57 pm Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Thanks bu Ilsa atas commentnya.
Pertanyaan yang muncul adalah:

  • Bagaimana meletakkan posisi Board of Health, Dinas Kesehatan/Bappeda (Pemerintah) dan berbagai lembaga swasta dan masyarakat dalam suatu sistem. Saya mendengar bahwa Jawa Barat juga menjadi proyek Provincial Health dari WB. Tentunya ada workshop-workshop persiapan. Apakah pernah dibahas mengenai posisi berbagai lembaga di sektor kesehatan dan hubungannya? Apakah menggunakan konsep good-governance sebagai dasar pengembangan? Ataukah menggunakan konsep lain? Bisa tidak bu Ilsa, sesuatu yang lebih detil dituliskan mengenai peran Board of Health. Apakah Board of Health juga akan berperan sebagai pengawas? Mungkin pak Gunawan bisa menjawab hal ini. Kalau di level rumahsakit (good hospital governance), Board of Directors/Trustees mempunyai peran sebagai pengawas. Atau mungkin bu Puti Bank Dunia memahami mengenai peran Board of Health? Hallo bu Puti, apa bisa menjawab? Atau pak Triono?
  • Kekhawatiran saya kalau isu Board of Health ini dikembangkan tanpa konsep yang jelas, jangan-jangan hanya akan menjadi fashion, atau mode yang akan segera berlalu, atau hanya perintah dari pusat. Lebih celaka lagi kalau ada yang menganggap bahwa Board of Health akan menggantikan DInas Kesehatan. Istilahnya Board of Health akan meredupkan masa depan Dinas Kesehatan....apakah benar ini?
    Silahkan berkomentar mengenai hal ini. Saya sedang melakukan rangkuman ke IV. Cukup menarik karena ada isu Board of Health dalam kerangka masa depan DInas Kesehatan.
    Minggu depan, forum diskusi akan kita gunakan untuk membahas berbagai pendekatan konsepsual untuk pengembangan Dinas Kesehatan. Dalam hal ini saya berharap rekan-rekan yang memahami mengenai Learning Organization, manajemen stratejik, manajemen perubahan dan berbagai konsep pengembangan untuk sharing pengetahuan di sini.
  • Jika memang tertarik dengan isu mengenai Good Governance di Kesehatan yang terkait dengan SIstem Kesehatan Wilayah, mungkin ada baiknya kita membikin workshop yang intensif mengenai hal ini. Saya pulang bulan Juni mendatang. Kalau mau bulan Juli kita bikin workshop ini di Yogya, atau di Bandung. Untuk level, rumahsakit PMPK UGM sudah menyelenggarakan seminar dan workshop mengenai Good Corporate Governance. Kalau ada yang tertarik dengan makalah saya pada workshop itu dapat minta pada niniekkasim@.... DI sektor rumahsakit, konsep ini semakin relevan karena dipicu oleh adanya desentralisasi, perubahan otonomi rumahsakit dan adanya UU baru mengenai Yayasan. Sedangkan di level kesehatan wilayah isu good governance menjadi semakin relevan karena adanya desentralisasi kesehatan ini.

Thanks. Laksono

23. Mon Mar 4, 2002 10:26 am Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Rangkuman ke IV:
Hallo para peserta miling-list:
Diskusi minggu ke IV ini pada intinya menunjukkan bahwa Dinas Kesehatan berada pada lingkungan yang baru. Dari berbagai gambaran mengenai keadaan Dinas Kesehatan di berbagai daerah dan diskusi para anggota miling-list, terlihat bahwa Dinas Kesehatan seperti seseorang yang berada di daerah baru tanpa ada bekal yang cukup.  Menarik kita lihat bahwa pernyataan Visi dan Misi sebagian mengacu pada Visi Indonesia Sehat 2010. Bahkan di beberapa daerah bahkan berani ke tahun 2005, atau 2008. Saya melihat ada suatu kekaburan antara Visi masyarakat untuk menjadi sehat di tahun 2010 atau 2008/2005 dengan Visi Dinas Kesehatan. Sekali lagi pertanyaannya apakah Dinas Kesehatan dengan keadaan sekarang ini mampu untuk menjadi lokomotif pendorong pembangunan kesehatan di wilayah masing-masing?
Memang penafsiran akan dampak desentralisasi terhadap Dinas Kesehatan belum jelas arahnya. Terkait dengan desentralisasi,  adanya Board of Health ternyata belum memberikan arah yang jelas mengenai kemana Dinas Kesehatan akan menuju. Para anggota miling-list ini belum bisa memberikan uraian jelas mengenai peranan Dinas Kesehatan dan juga Board of Health. Mungkin perlu suatu seminar khusus tatap-muka mengenai Board of Health.
Dalam keadaan penafsiran dampak desentralisasi terhadap Dinas Kesehatan yang belum jelas ini, maka diperlukan suatu pegangan konsepsual. Untuk itu saya berharap diskusi ke depan akan mampu membahas berbagai konsep untuk pengembangan Dinas Kesehatan. Sekali lagi saya berharap rekan-rekan yang memahami mengenai konsep Learning Organization, manajemen stratejik, manajemen perubahan dan berbagai konsep pengembangan organisasi dapat memberikan pengetahuannya di miling list ini.
Kami tunggu masukannya. Moderator

24. Fri Mar 8, 2002 8:02 am Laksono Trisnantoro <trisnantoro@xxx>

Hal: Rangkuman akhir Diskusi Masa Depan Dinas Kesehatan.
Para peserta miling list yang terhormat:
Menarik untuk dicermati bahwa diskusi pada minggu ke lima ini berjalan sangat lambat. Ada berbagai kemungkinan:

  1. Peserta diskusi melalui internet sudah lelah. Hal ini sudah biasa, dan kami sudah mengamati selama dua tahun ini. Pasti ada masa sibuk dan masa tenang dalam situs ini. Pola ini bisa dilihat pada arsip diskusi.
  2. Situasi di Indonesia tidak memungkinkan untuk berfikir lebih serius dan berjangka panjang;
  3. Masa depan Dinas Kesehatan memang suram karena berbagai keterbatasan, sehingga sulit mencari konsep untuk peningkatannya.
  4. Atau kombinasi dari berbagai hal di atas dan mungkin juga sebab-sebab lain yang tidak terdeteksi.

OK..sebagai rangkuman akhir, ada beberapa hal yang perlu ditekankan yang mungkin akan dibahas kemudian.

  1. Masa transisi dalam kebijakan desentralisasi ini merupakan masa penafsiran
    Masa ini memang perlu ditafsirkan dengan baik oleh seluruh pihak yang terkait dengan masa depan dinas kesehatan. Dalam teori kepemimpinan sebenarnya diharapkan para pemimpin Dinas Kesehatan melakukan penafsiran terhadap perubahan yang ada. Penafsiran terhadap perubahan ini akan mendorong pimpinan Dinas Kesehatan untuk melakukan tindakan agar organisasinya dapat berkembang terus. Penafsiran terhadap perubahan dapat dilakukan secara strategis ataupun tidak.  Penafsiran perubahan yang ada secara strategis berarti melakukan suatu action sebagai respons  kebijakan desentralisasi.
  2. Bagaimana sistematika action dan siapa penggagasnya?
    Sebagai pengamat, saya melihat bahwa action seharusnya dipelopori oleh Kepala-Kepala Dinas Kesehatan. Tindakan yang akan diambil merupakan cermin dari kepemimpinan nya. Mengutip pendapat seorang pakar manajemen lembaga publik (Koteen 1997) menyatakan bahwa peran pemimpin yang secara sistematis mengembangkan lembaganya adalah  sebagai berikut: (1) sebagai arsitek penyusunan visi organisasi, (2) membentuk budaya organisasi dari nilai-nilai yang ada; (3)  sebagai pemimpin dalam mengembangkan sistem manajemennya; (4) memahami lingkungan; (5) menggerakkan penggalian sumber biaya; dan (6) sebagai penjamin mutu lembaganya. Disamping itu apabila terjadi kemacetan dalam perkembangan organisasi, seorang pemimpin harus berperan sebagai penggerak agar suasana kerja dapat bergairah untuk perubahan.

Dengan menggunakan konsep Koteen ini, para pemimpin Dinas Kesehatan mempunyai peran sangat besar dalam pengembangan masa depan Dinas Kesehatan.  Peran sebagai arsitek penyusunan visi organisasi merupakan hal menantang bagi seorang kepala Dinas. Diharapkan para Kepala Dinas selalu berusaha untuk bertanya ke diri sendiri dan organisasinya: Dalam keadaan apa sekarang ini, kemana kita ingin menuju, bagaimana kita akan mencapai tujuan, perubahan apa yang kita perlukan, untuk siapa  perubahan ini.
Akan tetapi di lapangan tentunya ada Kepala Dinas yang praktis menyerupai seorang kepala kantor yang menunggu petunjuk dari atas, dan tidak mempunya pandangan mengenai masa depan. Hal ini dengan mudah terjadi di Indonesia. Kemampuan berfikir dan bertindak sebagai arsitek penyusunan visi memang bukan merupakan bagian dari kultur pegawai negeri. Menunggu petunjuk atasan,  menyusun program berbasis pada Daftar Isian Proyek merupakan penampakan-penampakan normal pada cara berfikir pegawai negeri pada masa lalu.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah memang harus demikian cara berfikir pegawai negeri? Apakah perlu diubah? Kalau perlu diubah, bagaimana merubah cara berfikir para pemimpin ini? Bagaimana mengembangkan kepemimpinan di sektor kesehatan?
3. Bagaimana mengembangkan leadership di sektor kesehatan?
Menarik apa yang dikirim oleh pak Jacq Jeugman mengenai leadership yang saat ini dikembangkan di berbagai bidang. Saya kutip sedikit:
Leadership involves enabling groups of people to face challenges and achieve results under complex conditions. Good leadership is more important than ever in the current health care environment. The rise of HIV/AIDS and other infectious diseases; health reform, such as decentralization and social insurance; and uncertainties in donor funding present formidable external challenges to health care organizations. At the same time, organizations confront low staff morale, staff shortages, weak systems and processes, difficulty in sustaining high-quality services, and other internal challenges. To address these challenges, they need managers who can not only manage, but also lead their staff through change (MSH publication)
Momentum masa transisi dalam desentralisasi ini sangat penting untuk mengembangkan kepemimpinan di sektor kesehatan.
Jadi memang secara alamiah, diskusi dalam miling-list ini seharusnya bersambung dengan membahas mengenai kepemimpinan. Tetapi kita kesulitan untuk mencari narasumber. Mungkin ada baiknya kita diskusi secara bebas tanpa ada narasumbernya, atau silahkan mengutip berbagai pendapat dari pakar.
Jika masih lelah diskusi melalui Internet mari kita break dulu seminggu atau 2 minggu ini. Kebetulan besok siang sampai minggu depan saya akan ke Los Angeles mengikuti konferensi mengenai Leadership yang diselenggarakan oleh America Medical Doctor Assotiation  (IDI nya Amerika Serikat). Saya berusaha untuk membuat laporan mengenai konferensi tersebut untuk anda peserta miling-list, dan berharap dapat memicu diskusi mengenai leadership.
OK sekian dulu. Sampai bertemu kembali.
Salam dari Moderator: Laksono Trisnantoro

 

Comments  

 
# Masa Depan Dinas KesehatanLauna 2014-03-08 20:25
natural garcinia cambogia reviews I together with my guys came analyzing the good things on your
web page and then instantly came up with an awful feeling I never expressed
respect to the blog owner for those techniques.
Most of the guys are already so happy to learn them and now have undoubtedly been taking advantage of those things.
Appreciate your getting indeed kind and also for picking certain extraordinary resources millions of individuals are really desirous to know about.
My very own honest apologies for not expressing appreciation to earlier.
garcinia cambogia reviews and side effects

My webpage: garcinia cambogia reviews
dr. oz
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanFinn 2014-03-11 07:00
garcinia cambogia Login / api key invalido o has alcanzado el límite
garcinia cambogia

Feel free to visit my web site; garcinia cambogia extract
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanJan 2014-03-18 09:58
reverse phone 466336 363079Youre so cool!
I dont suppose Ive read anything such as this before.
So good to get somebody with some original thoughts on this
topic. realy we appreciate you starting this up. this fabulous
internet site are some items that is required
on the internet, somebody with slightly originality.
beneficial function for bringing a new challenge on the world wide
internet! 758863 reverse phone lookup
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAlexander 2014-03-22 00:36
garcinia cambogia extract gnc Thanks for your article.

I have generally seen that the majority of people are desirous to lose weight since they wish to look slim and
also attractive. Nevertheless, they do not always
realize that there are additional benefits for you to losing weight in addition.
Doctors claim that fat people have problems with a variety of health conditions that can be directly attributed to their own excess
weight. The great thing is that people who sadly are overweight along with suffering
from several diseases can reduce the severity of their illnesses through losing weight.

You’ll be able to see a progressive but noted improvement in health whenever
even a bit of a amount of fat loss is attained. pure garcinia cambogia extract

Also visit my web blog ... garcinia cambogia extract side effects
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanEileen 2014-03-22 01:17
pure garcinia cambogia reviews I was just searching for this information for
some time. After 6 hours of continuous Googleing, at last
I got it in your site. I wonder what’s the lack of Google strategy
that do not rank this type of informative web sites in top of the list.
Normally the top websites are full of garbage. dr oz garcinia cambogia reviews
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanLouisa 2014-03-22 03:09
garcinia cambogia daily dosage for weight loss Rough sexual category offers
a couple with an unique pleasure and involves activities including punching, scratching, manacles, whips, chains and excellent.
Most people keep the mistaken belief that females don’t obtain pleasure in
violent sexual category yet the fact remnants when adept in the apt come up
to will leave fairly a distance in as long as immense
profit to a woman. There is no next measured
the fact solid sexual category, unadulterated sexual
category and unfathomable sexual category eventually satisfies
a few. Hence, it is forever smart to obtain element in violent lovemaking.
garcinia cambogia for weight loss dosage
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanClarita 2014-03-22 04:54
garcinia cambogia for weight loss Hi, of course this piece of writing is truly fastidious
and I have learned lot of things from it about blogging.
thanks. pure garcinia cambogia dr oz
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAmado 2014-03-23 01:30
pure garcinia cambogia reviews Just to let you know your
website looks a little bit strange in Safari on my
notebook with Linux . whole body garcinia cambogia reviews

My homepage; miracle
garcinia cambogia reviews
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAngelita 2014-03-23 04:53
garcinia cambogia reviews yahoo I simply want to mention I’m newbie to blogging and
site-building and certainly savored your website.
Very likely I’m going to bookmark your blog . You actually come with impressive articles and reviews.
Thank you for revealing your web site. garcinia cambogia reviews bodybuilding

Stop by my blog :: garcinia cambogia review
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanKenton 2014-03-26 15:06
garcinia cambogia reviews dr. oz I’ve been surfing online more than 3 hours today, yet I never
found any interesting article like yours. It is pretty worth enough for me.

Personally, if all site owners and bloggers made good content as you did, the web will be a lot more useful than ever
before. miracle garcinia cambogia reviews

Have a look at my web site - garcinia cambogia
reviews and side effects
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanTahlia 2014-03-27 14:53
reverse
lookup
phone number I was basically curious about if
you ever considered replacing the page layout of
your website? It is well written; I love what you have got
to state. But maybe you could add a a bit more in the way of written content so people can connect to it
better. You have got a great deal of wording for only having one or two images.
Maybe you can space it out better? reverse lookup verizon
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanTyrone 2014-03-27 16:20
reverse phone lookup by address When you need the special free essays,
you will not have to write that by your own. Today we have very
good developed commerce of custom papers writing services and
it is practicable to purchase asia essays. reverse phone lookup reviews

My blog post; reverse phone lookup usa
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAurora 2014-03-28 04:05
reverse lookup cell Thanks for your suggestions.

One thing I’ve got noticed is the fact banks as well as financial institutions really know the spending patterns of consumers as
well as understand that most people max out their cards around the
breaks. They properly take advantage of this specific fact and begin flooding
your inbox and also snail-mail box together with hundreds of no-interest APR credit card offers soon
after the holiday season closes. Knowing that if you are like 98% of the American
public, you’ll rush at the chance to consolidate
credit card debt and transfer balances towards 0 APR credit cards.
reverse lookup address
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanMaritza 2014-03-28 11:51
cell phone reverse lookup What youre stating is totally accurate.
I understand that everyone must say the same issue,
but I just think that you place it in a way that everyone
can understand. I also really like the pictures you set in here.

They suit so well with what youre looking to say. Im positive youll attain numerous
folks with what youve acquired to say. cell phone look up

Here is my site: cell
phone lookup
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanNapoleon 2014-03-30 00:43
free cell phone number lookup by name Can you message me with a few hints & tips on
how you made your blog look this awesome, I would
be appreciative! phone number lookup by address

my web page - verizon
wireless phone number lookup
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanArlen 2014-04-08 02:19
Hi to every body, it's my first go to see of this blog; this webpage contains remarkable and actually good stuff in favor of visitors.


Review my blog; minecraft games
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAndrea 2014-04-08 13:56
It is appropriate time to make some plans for the future and it
is time to be happy. I've read this post and if I may just
I wish to recommend you some fascinating things or advice.
Maybe you can write subsequent articles referring to this article.
I desire to read more issues approximately it!


Here is my page ... mujeres solteras
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
# Masa Depan Dinas KesehatanAdam 2014-04-18 20:49
Greetings! Very helpful advice in this particular article!
It's the little changes that will make the greatest changes.
Many thanks for sharing!

my blog; discount dr Dre beats
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


RocketTheme Joomla Templates