57 Persen Rumah Sakit di Indonesia Belum Terakreditasi
Written by admin
Wednesday, December 22, 2010 2:34 AM "Zulfadhli Nasution" <zuladigms@yahoo.com>
dikutip dari Merry Wahyuningsih - detikHealth. Selasa, 21/12/2010 18:22 WIB
Jakarta, Dari jumlah 1.523 rumah sakit yang ada di Indonesia, baru ada 43 persen rumah sakit yang terakreditasi. Artinya ada 57 persen atau separuh lebih rumah sakit di Indonesia yang belum terakreditasi. Hal ini disampaikan oleh Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH dalam acara Audiensi dengan 25 Pemenang Pengelola Terbaik RS Sayang Ibu dan Bayi di Gedung Kemenkes, Jakarta, Selasa (21/12/2010). "Ini akreditasi nasional. Ada beberapa alasan, salah satunya menurut laporan di lapangan adalah mahalnya biaya untuk mendatangkan penilai ke daerah, karena RS tersebut belum mempunyai cukup tenaga kesehatan seperti dokter spesialis, atau RS itu sendiri belum aktif untuk meningkatkan akreditasinya," jelas Menkes. "Dari 1.523 rumah sakit baik pemerintah dan swasta, baru ada 602 atau sekitar 43 persen yang terakreditasi secara nasional," jelas Kuncoro Adikurjanto, Sekjen Ditjen Pelayanan Medik Kemenkes. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes terus melakukan upaya peningkatan, terutama untuk meningkatkan dan mengupayakan tim penilai. "Target kita untuk 2 tahun ke depan rumah sakit di Indonesia dapat sebagian besar terakreditasi," lanjut Menkes. Rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien, memiliki pelayanan yang komunikatif, memiliki teknologi yang memadai. Indonesia memiliki 2 jenis rumah sakit, yaitu rumah sakit pemerintah dan rumah sakit non-pemerintah atau yang biasa disebut rumah sakit swasta. Rumah sakit yang termasuk rumah sakit pemerintah adalah rumah sakit pusat, daerah, kejaksaan, rumah sakit hukum & HAM, dan rumah sakit agama. Di Indonesia jumlah rumah sakit non-pemerintah lebih banyak ketimbang rumah sakit pemerintah. Jumlah rumah sakit pemerintah sendiri hanya berkisar kurang dari 50 persen.
Wednesday, December 22, 2010 5:04 AM "Hasbullah Thabrany" <hasbullah.thabrany@yahoo.com>
Penilaian sy, berkunjung ke RS dan tanya pimpinan dan pasien, meskipun yg terakreditasi, gak jaminan kualitasnya memadai. Krn akreditasinya terdistorsi jadi formalitas, bukan kendali mutu sesungguhnya. Dalam banyak hal, kita perlu mengubah mind set kita utk bekerja "beneran" bukan formalitas. Skrg sih ok lah. Harus perbaiki juga. Ini tantangan ke Depan.
Wednesday, December 22, 2010 7:18 AM "Sarmedi yahoo" <sarmedi.purba@yahoo.de>
Saya berpendapat bahwa akreditasi harus sukarela, tidak dipaksa seperti sekarang. Memang konsep dulu sukarela, sekarang kita main paksa. Saya taksir 1/3 RS di Indonesia tidak mampu mengikuti akreditasi yang berlaku sekarang. Lagian, banyak RS pemerintah dan swasta yang sudah terakreditasi tetapi pelayanannya tidak bertambah baik. Seyogianya akreditasi pada tingkat tertentu dimintakan oleh penyandang dana pengobatan, semisal askes dan perusahaan penanggung. Tidak oleh penguasa. Lain halnya kalau penguasa bersedia menanggung semua biaya yang timbul. Intinya, kebijakan main paksa ini sebaiknya ditinjau ulang.
Wednesday, December 22, 2010 11:22 AM "zulfendri jolly" <zulfendri_jolly@yahoo.com>
Karena Akreditasi bersifat sukarela, maka pertanyaannya adalah adakah pengaruh akreditasi terhadap peningkatan pendapatan rumah sakit atau pilihan masyarakat untuk memanfaatkan rs karena status rs akreditasi? Karena kecenderungan masyarakat kita masih memilih dokternya ketimbang rumah sakitnya. Biaya yang harus dipersiapkan RS untuk akreditasi juga relatif besar. bagi rumah sakit pemerintah mungkin bisa dari anggaran pemerintah daerah atau pemerintah pusat tapi bagi rs swasta harus tanggung sendiri. Semoga aja semangat Kemenkes dapat direalisasikan dan mendorong mendorong dan menfasilitasi rs-rs untuk dikreditasi dan hasil akreditasi tersebut betul betul menjadikan pelayanan yang lebih baik dari sebelum tidak hanya sekedar kertas selembar namun pelayanan ya gakda perubahan yang signifikan.
Kulon Progo - Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mendistribusikan 25.000 vaksin flu burung (H5N1) clade 2.3.2 kepada para peternak itik di sana.
Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Dinas Kepenak) Kulon Progo, Drajad Purbadi, kepada Antara, di Kulon Progo, Senin (14/1), mengatakan, distribusi vaksin melaui Unit Pelaksana Teknis Dinas Pusat Kesehatan Hewan (UPTD Puskeswan) di wilayah utara, tengan dan selatan di wilayah Kulon Progo.
"Penyebaran H5N1 clade 2.3.2 telah menyerang itik di Kabupaten Kulon Progo pada Oktober 2012. Untuk itu, kami berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta untuk mengantasi penyebaran virus ini....
SEBAGAI kota penyangga ibu kota, pelayanan kesehatan di Depok masih belum optimal. Nyatanya, masih banyak warga Depok yang berobat dan mencari fasilitas kesehatan ke Jakarta.
Betapa tidak, tahun 2013 anggaran kesehatan di APBD Depok masih jauh dari aturan Undang-Undang Kesehatan, yakni mewajibkan 10 persen dari APBD. Dana kesehatan saat ini sebesar Rp97 miliar masih di bawah 10 persen APBD senilai Rp1,6 triliun.
Anggota Komisi D DPRD Depok Farida Rahmawati mengatakan, kebutuhan pelayanan kesehatan sangat tinggi, sementara RSUD Depok selalu penuh sesak. Apalagi pertumbuhan penduduk semakin meningkat.
Sementara infrastruktur kesehatan, kata dia, masih belum memadai. Farida mengakui kuncinya memang penataan kembali plafon anggaran prioritas...
The 400 membership of Association of Resident Doctors in the University of Ilorin Teaching Hospital (UITH) has embarked on rural medical posting/outreach with the aim of complementing government efforts on rural community health care programme.
Speaking at the free screening exercise for non communicable diseases like hypertension and diabetes among civil servants in Ilorin, the president of the association, Dr. Dele Tajudeen, said the programme was part of goals aimed at giving back to the community.
Dr. Tajudeen, who said the pilot exercise of the rural medical outreach had been carried out in Offa and Esie communities, adding that resident doctors from...
Many rural providers near retirement weigh making investment versus closing practice
LONDON, Ky. (April 5, 2013) — A new electronic health records (EHR) survey released this week found that 63 percent of rural health providers have not installed the new EHR software as mandated by the American Recovery and Reinvestment Act of 2009.
More than 280 of the small and rural doctor practices surveyed in the Southern Kentucky region could be impacted and would face financial penalties from Medicaid and Medicare if they do not have new electronic health records software installed by 2015.
More than 280 of the small and rural doctor...